GUA HIRA Tempat Wahyu Pertama Diturunkan

   Dari tempat yang sempit inilah, reformasi global dalam memperbaiki kehidupan umat dimulai.
”Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS Al-Alaq (96): 1-5].
Di suatu malam pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan 13 Agustus 610 Masehi, Malaikat Jibril AS atas perintah Allah SWT turun ke bumi untuk menjumpai seorang manusia yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dan menyampaikan firman Allah kepadanya.
Sementara itu, manusia yang akan dipilih menjadi penghulu dari segala nabi itu sedang terlelap tidur di sebuah gua di pegunungan (Jabal) Nur, sekitar enam kilometer dari Kota Makkah.
Ketika terjaga dari tidurnya, Muhammad kaget karena melihat ada orang lain (Malaikat Jibril) dalam gua. Malaikat Jibril lalu menepuk pundaknya dan menyuruh dirinya untuk membaca. ”Iqra’ (bacalah),” kata Jibril.
Dengan perasaan takut, Muhammad menjawab, ”Ma ana biqari’ (saya tidak bisa membaca).” Lagi-lagi, Malaikat Jibril memintanya untuk membaca, ”Iqra’.” Muhammad yang ummi (tak pandai membaca dan menulis–Red) ini tetap menjawab, ”Ma ana biqari’ (saya tidak bisa membaca).”
Hingga pada yang ketiga kalinya, Jibril mengajaknya untuk membaca. ”Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzi ‘allama bil qalam. ‘Allamal insana ma lam ya’lam.”
(Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS Al-Alaq (96): 1-5].
Inilah pembaiatan Muhammad sebagai Rasulullah SAW yang membawa risalah kenabian dan kerasulan untuk mengajak umat manusia menuju cahaya Islam.
Selepas menerima wahyu pertama ini, Rasulullah SAW kemudian pulang ke rumah, menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid RA. Muhammad bergegas meminta istrinya agar memberikan selimut padanya. Kemudian, berceritalah manusia pilihan Allah ini tentang peristiwa yang baru saja dialaminya di Gua Hira.
Tak berlangsung lama, Khadijah mengimani (mempercayai) yang disampaikan suaminya. Sebab, sejak kecil, Muhammad sudah dikenal sebagai seorang pria yang jujur. Karena itu, ia dijuluki dan diberi gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya).
Khadijah yakin, suaminya telah dipilih oleh Allah SWT sebagai rasul (utusan)-Nya. Muhammad dibaiat untuk membawa umat manusia menuju jalan yang lurus (shiratal mustaqim). Dan, kelima ayat dari surah Al-Alaq itu menjadi akses untuk memperbaiki dunia dari belenggu kebodohan dan kejahiliyahan.
Gua Hira
Sebagian besar umat Islam sudah mafhum (mengetahui) bahwa ayat yang pertama kali diturunkan dan diterima oleh Nabi Muhammad SAW adalah surah Al-Alaq (96) ayat 1-5. Wahyu pertama ini diterima ketika Rasulullah SAW sedang bertafakur di salah satu gunung di kawasan Makkah yang bernama Jabal Rahmah. Di Jabal Rahmah ini, terdapat sebuah gua yang dinamakan Gua Hira.
Jabal Nur dan Gua Hira terletak di sebelah utara Masjidil Haram, berjarak sekitar enam kilometer. Jabal Nur tingginya sekitar 200 meter. Namun, untuk sampai di puncak, dibutuhkan waktu sekitar satu jam pendakian. Gua Hira terletak di sekitar puncak, persisnya berada di belakang dua buah batu besar atau sekitar 40 meter dari puncak Jabal Nur.
Gua Hira ini tidak terlalu luas, yakni hanya sekitar 50 sentimeter (cm) dan panjang kurang dari dua meter. Ia hanya cukup untuk tiga sampai empat orang atau tak lebih dari seorang apabila berbaring. itu pun dalam kondisi berbaring tak sempurna. Sementara itu, tinggi dasar gua mencapai 155 cm.
Pada bagian ujung kanan gua, terdapat sebuah lubang yang dapat digunakan untuk memandang kawasan bukit dan gunung ke arah Makkah. Di sekitarnya, terdapat batu-batu besar berwarna hitam kemerah-merahan yang menutupinya. Karena cahaya terhalang masuk oleh batu-batu itu, di dalam gua selalu gelap.
Di gua inilah, Rasulullah SAW biasa melakukan tafakur (merenung) dan tahannuts (mendekatkan diri) pada Sang Pencipta. Di tempat sempit ini, Nabi Muhammad SAW mengasingkan diri. Ia selalu mencari jalan keluar dan memikirkan keadaan sukunya yang telah melupakan ajaran Nabi Ibrahim AS.
Selama lebih dari 14 abad hingga sekarang ini, kondisi gua tidak banyak berubah. Gua Hira tidak dibangun dan tidak pula dikembangkan. Sebelum masa pemerintahan keluarga Sa’ud, di puncak Gunung Hira, pernah dibangun sebuah kubah sebagai tanda atau tempat bersejarah yang menjadi objek ziarah para jamaah haji setelah selesai menunaikan ibadah haji.
Dalam Ensiklopedia Islam, disebutkan bahwa demi kepentingan para peziarah, di sekitar Gua Hira atau di perbukitan Jabal Nur, pernah dibangun warung kopi. Akan tetapi, setelah keluarga Sa’ud berkuasa di Hijaz, semua bangunan yang didirikan di tempat yang dianggap keramat itu dihancurkan, termasuk kubah dan keberadaan warung kopi serta kolam tempat penampungan air hujan dari atas puncak Jabal Nur.
Alasan perusakan dan pemusnahan itu karena dikhawatirkan akan menjauhkan kaum Muslim dari keimanan dan mendekatkan mereka pada perbuatan syirik, takhayul, dan khurafat. sya/berbagai sumber
Senantiasa Dikunjungi Umat
Bagi umat Islam, Jabal Nur dan Gua Hira adalah tempat yang sangat bersejarah. Sebab, di tempat itulah, Allah SWT menurunkan firman-Nya yang pertama kepada manusia pilihan, Muhammad SAW.
Setiap tahun, Gua Hira dan Jabal Nur sering dikunjungi atau diziarahi umat Islam. Bahkan, pada musim haji, ribuan hingga jutaan jamaah haji mendatangi lokasi ini untuk melihat secara dekat tempat wahyu pertama diturunkan. Sekaligus menyaksikan tempat       manusia pilihan biasa melakukan tafakur dan tahannuts dalam memikirkan kejahiliyahan penduduk Makkah.
Ada bermacam-macam tujuan umat saat berkunjung ke lokasi tersebut. Misalnya, ada yang melakukan shalat di puncak gunung atau ada pula yang ingin menapaktilasi perjalanan Rasulullah SAW saat mendaki puncak gunung. Selebihnya ingin menyaksikan dari dekat tempat wahyu Allah pertama diturunkan ke muka bumi kepada manusia pilihan-Nya, Muhammad SAW.
Setiap tahun, Gua Hira tak pernah sepi dari kunjungan umat. Mereka berbondong-bondong mendatangi dan menziarahi Gua Hira.
Pemerintah Arab Saudi sebenarnya telah melarang para peziarah untuk mendaki gunung tersebut. Ini terlihat dari papan pengumuman di jalan masuk menuju gunung. Imbauan ini ditulis dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
”Saudara kaum Muslim yang berbahagia: Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan kita untuk naik ke atas gunung ini. Begitu pula shalat, mengusap batunya, mengikat pohon-pohonnya, serta mengambil tanah, batu, dan pohonnya. Dan, kebaikan adalah dengan mengikuti sunah Nabi SAW, maka janganlah Anda menyalahinya.”
Demikian papan pengumuman yang dikeluarkan Pemerintah Arab Saudi. Namun demikian, larangan itu jarang dipatuhi umat. Bahkan, dengan berbondong-bondong, baik umat Islam dari Jazirah Arabia, Asia, Afrika, maupun Eropa, tetap saja mendatangi dan memaksakan diri untuk mendaki Jabal Nur dan memasuki Gua Hira.
Bahkan, pada zaman dahulu, Jabal Nur ini juga sering didatangi tokoh-tokoh ternama. Di antaranya adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Adul Uzza, anak paman dari Siti Khadijah. sya/berbagai sumber
Reformasi Global dari Gua Hira
Gua Hira yang terletak di perbukitan Jabal Nur merupakan lokasi pertama Rasulullah SAW dalam memikirkan kondisi kaumnya (Quraisy) yang jahiliyah. Kondisi kaumnya yang suka mabuk-mabukan, berzina, hingga membunuh anak kandung sendiri, membuat Muhammad sedih.
Kondisi kaum Quraisy ketika itu sudah sangat buruk dan sangat memprihatinkan. Mereka telah mempertuhankan berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Berhala-berhala itu dipuja dan disembah. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu karena dianggap sebagai penolong mereka.
Karena itulah, melihat kondisi buruk kaumnya ini, Muhammad bin Abdullah yang terkenal sebagai pria yang jujur (Al-Amin) pergi mengasingkan diri dari kehidupan kaumnya yang nista. Muhammad mencari petunjuk dalam upaya memperbaiki kehidupan      
kaumnya. Selama tiga tahun berturut-turut pada bulan Ramadhan, Muhammad bertafakur di Gua Hira yang berada di timur laut Kota Makkah, di pinggir jalan menunju Ji’ranah.
Ia menjadi seorang pencari kebenaran sejati (the seeker of truth). Muhammad senantiasa memikirkan keadaan kaumnya yang sudah melupakan ajaran Nabi Ibrahim al-Khalil. Di tempat sempit itulah, Muhammad berkhalwat: mengasingkan diri dari kehidupan duniawi dan mencari hakikat kebenaran.
Budaya berkhalwat ini sebenarnya juga menjadi kebiasaan orang-orang Arab. Mereka melakukan hal itu untuk mencari kebenaran dan petunjuk dari yang Mahagaib.
Ketika tiba masanya, dalam tahannuts-nya di Gua Hira, Allah mewahyukan manusia yang ummi ini untuk menjadi Rasul-Nya dalam memperbaiki kondisi moral kaum Quraisy yang sangat buruk.
Tak hanya bagi kaum Quraisy, Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk memperbaiki kehidupan akhlak seluruh umat manusia. Dari Gua Hira-lah semuanya bermula. Dari tempat yang sempit di pegunungan Jabal Nur, reformasi global dilakukan. Seluruh umat manusia, baik keturunan Arab maupun ‘Ajam (non-Arab), diserukan untuk menyembah Allah, mengerjakan perbuatan baik (ma’ruf), dan menjauhi perbuatan mungkar. sya/berbagai sumber

0 Gemar:

Poskan Komentar